Cerita Ponsel

Sekedar bercerita tentang  ponsel-ponsel yang pernah saya gunakan. Belum banyak sih, baru empat jenis ponsel dari 3 merk berbeda.

Nokia 3530

3530
sumber

Ini adalah ponsel pertama yang saya miliki. Ponsel ini saya beli, seingat saya pada tahun 2004 di Semarang, membelinya langsung di jaringan toko resmi yang kala itu bernama Nokia Profesional Center. Alasan saya memilih ponsel ini karena ponsel ini sudah bisa untuk mengakses internet di ponsel, yaitu menggunakan terknologi 2G alias GPRS. Dan ini adalah ponsel termurah saat itu yang bisa untuk akses internet, harganya sekitar 1 jutaan kalau tidak salah. Akses internet di ponsel saat itu adalah barang baru dan saat itu baru operator IM3 yang bisa, yang kemudian diikuti oleh operator-operator lain.

Sebagai ponsel entry level, tidak ada yang spesial dari Nokia 3530 kecuali ya itu tadi sudah bisa internetan di ponsel, itu saja.

Motorola E398

398
sumber

Setelah itu memasuki era ponsel berkamera, walaupun saat itu kebanyakan masih kamera VGA. Dan sayapun ingin juga memiliki ponsel jenis tersebut. Saya tertarik dengan Motorola E398 karena bentuk dan suaranya mantap tapi harganya saat pertama kali rilis sekitar 3,5 juta. Eman-eman banget ngeluarin duit segitu hanya untuk membeli ponsel. Tapi  harga tersebut terus turun dan tinggal 2 jutaan saja. Akhirnya saya jadi meminang Motorola E398 meskipun Nokia 3530 saya masih baik-baik saja kondisinya, dan ponsel lawas tersebut dipakai ibu saya.

Saya membeli Motorola E398 sekitar tahun 2006 di Solo tepatnya saat itu sedang ada roadshow mobil Motorola ke berbagai kota di Indonesia. Keunggulan ponsel ini adalah suaranya yang bagus banget, keren lah menurut saya. Berbeda dengan Nokia yang casingnya bisa diganti-ganti, E398 ini casingnya tetap. Tapi justru itu menjadi kelebihannya. Ponsel ini tahan banting, karena beberapa kali terjatuh masih oke saja kondisinya. Pernah terjatuh dari saku baju saat turun dari angkot, saya lihat ponsel tersebut terbanting beberapa kali di aspal dan sempat khawatir dengan kondisinya. Tetapi setelah saya ambil, wow ponsel tersebut tetap hidup, kalau lecet ya iya.

Ponsel ini harus berakhir masa baktinya karena ayam. Ceritanya begini, waktu pulang kerja tiba-tiba di jalan hujan gerimis dan saya mempercepat laju motor dan tiba-tiba ada ayam menyeberang. Mungkin ayam itu juga ingin buru-buru pulang takut kehujanan. Karena kaget saya mengerem mendadak dan hasilnya saya jatuh. Ponsel saat itu ada di saku, dan saat tiba di rumah ponsel saya keluarkan dan baru tahu kalau layarnya pecah sehingga tidak bisa dipakai.

Nokia 6120 Classic

6120
sumber

Mendadak harus ganti ponsel gini menyebabkan tidak ada persiapan jenis ponsel apa yang akan saya beli. Pergi ke toko ponsel lalu diberi beberapa alternatif tipe ponsel yang kebanyakan ya Nokia. Saya membelinya di Bangko pada tahun 2008. Pilihan saya jatuh ke Nokia 6120 classic karena bentuknya yang simpel dan fiturnya lumayan lengkap, suport jaringan 3G, dual kamera dan kamera utama sudah 2 MP yang saat itu termasuk oke lah. Ponsel juga dibekali sistem operasi Symbian yang populer pada masanya..

Harga sekitar 1,7 juta menggunakan uang saya di Jamsostek ketika saya bekerja yang kebetulan sudah bisa dicairkan, lumayan. Sebagai ponsel pintar pada eranya, menggunakan ponsel ini cukup puas. Aplikasi terutama seperti Opera Mini, Google maps sudah cukup membantu saya.

Samsung Galaxy Young S5360

5360
sumber

Ponsel yang dikenal dengan nama gayung ini saya beli tahun 2011 di Semarang. Membeli ponsel ini sama halnya dengan membeli Motorola E398 dulu, yatu mengikuti tren saja karena ponsel sebelumnya masih bagus, kali ini ingin punya ponsel layar sentuh. Bedanya membeli ponsel ini tidak saya rencanakan sebelumnya.

Ceritanya gini. Saat itu saya lagi dinas ke Jakarta dan saya mampir pulang ke Jogja. Nah, dalam perjalanan kereta api Jakarta ke Jogja saya membaca koran yang berisi review ponsel ini. Yang paling menarik dari review ini adalah harganya yang 1 jutaan. Uang saku dari kantor cukuplah untuk membeli ponsel ini. Saat di kampung halaman, saya main ke Semarang dan membeli ponsel ini di sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Simpanglima sehingga saya menggunakan dua ponsel.

Ponsel layar sentuh dengan android Gingerbread ini memang asyik, ribuan aplikasi bisa kita pilih sesuai keinginan, mulai dari permainan sampai dengan mesengger. Dan karena itulah ponsel ini bekerja ekstra karena tingginya penggunaan ponsel, mulai dari browsing, aktivitas medsos hingga permainan hingga pada sekitar tahun 2015 ponsel ini tutup usia. Dan sejak saat itu Nokia 6120 classic menjadi satu-satunya ponsel saya.

Awal-awal tanpa si gayung memang rasanya aneh karena sudah kecanduan dengan berbagai aplikasi yang ada, tetapi lama-lama juga terbiasa. Sampai sekarang belum ada keinginan lagi membeli ponsel sejenis. Dengan Nokia 6120 classic sudah cukuplah, meski tanpa aplikasi medsos, mesengger, dll. Hanya saja jika keluar kota saya pinjam ponsel ibunya Nashwa karena saya memang membutuhkan beberapa aplikasi selama bepergian seperti google maps, angkutan online, dll.

Iklan

5 thoughts on “Cerita Ponsel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s