#Trip2Batam (8): Kampung Vietnam di Pulau Galang

Berkunjung Kampung Vietnam di Pulau Galang adalah salah satu keinginan saya saat berkunjung ke Batam. Namun hasil googling memberi tahu bahwa jarak kesana dari pusat Kota Batam cukup jauh, sekitar 50 km. Transportasi umum kesana juga minim yaitu hanya dilayani Bis Damri setiap 2 jam sekali, itupun mungkin hanya sampai pusat keramaian di Pulau Galang. Bagaimana nanti akses ke  lokasi belum ada informasi jelas. Kalau menyewa mobil tentu harus mengeluarkan biaya lebih. Sehingga rencana berkunjung ke Kampung Vietnam masuk ke dalam daftar terbawah.

Tetapi pada kegiatan di Batam saya mendapat teman yang juga ingin Kampung Vietnam, jadilah kami patungan menyewa mobil dan kebetulan Hari Jum’at sore kegiatan sudah ditutup, jadinya Hari Sabtu sudah bebas ditambah jadwal penerbangan ke Jambi jam 16.30 WIB, weekend yang sempurna di Batam!

Kampung Vietnam, begitu orang-orang menyebutnya adalah bekas lokasi pengungsian warga Vietnam akibat Perang Vietnam yang berlangsung dalam kurun waktu 1955 – 1975. Para pengungsi ini terkenal dengan julukan manusia perahu karena mereka menggunakan perahu untuk mengungsi. Mereka harus terombang-ambing berbulan-bulan di tengah lautan lepas dan tidak terhitung lagi berapa yang tewas ditelan ganasnya lautan. Perahu-perahu kayu berukuran kecil harus dijejali antara 40 – 100 orang. Bagi yang beruntung mereka selamat dan bisa sampai ke daratan di berbagai wilayah. Di Indonesia manusia perahu ini mendarat di Pulau Galang dan pulau-pulau lain yang banyak terdapat di sekitar Batam.

PBB pada tahun 1979 memutuskan untuk menyatukan para pengungsi tersebut di sebuah tempat untuk mempermudah pengawasan yaitu di Pulau Galang yang pada saat itu belum berpenghuni. Luas lahan yang digunakan seluas 80 hektar dengan jumlah pengungsi sekitar 250.000 jiwa. Jumlah yang sangat banyak, setara dengan penduduk sebuah kabupaten.

Di lokasi tersebut dibangun berbagai fasilitas seperti barak tempat tinggal, rumah sakit, tempat ibadah (vihara, gereja, mushola), sekolah dan bahkan sampai penjara dan makam yang sampai tempat ini resmi ditutup terdapat 503 orang yang dimakamkan disana. Fasilitas lain seperti pembangkit listrik dan jaringan air bersih juga dibangun. Dengan ditempatkan di satu tempat, mempermudah pengawasan dan juga untuk mencegah penularan penyakit kelamin yang diderita pengungsi yang dikenal dengan nama Vietnam Rose.

Para pengungsi diberi berbagai pelatihan sepeti kursus Bahasa Inggris untuk bekal mereka nantinya ketika mendapat suaka dari negara-negara maju yang mau menerima. Tahun 1996 tempat ini resmi ditutup dan sebagian besar pengungsi diterima di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Australia dan lainnya. Sementara sekitar 5000 orang yang tidak lolos tes untuk diterima di negara lain dipulangkan ke Vietnam. Sebagai bentuk protes, mereka membakar dan menenggelamkan perahu-perahu yang membawa mereka kesini dan ada pula yang bunuh diri karena tidak mau kembali ke Vietnam. Kini kawasan ini menjadi obyek wisata sejarah yang dikenal dengan nama Kampung Vietnam.

Sabtu 25 Maret 2017 sekitar pukul 09.00 kami chek out dari hotel dan segera meluncur ke Pulau Galang. Melalui jalan Trans Barelang yang mulus, suasananya kontras banget dengan jalanan Batam. Sepanjang jalan Trans Barelang menuju Pulau Galang suasana kanan kiri masih sepi dengan didominasi ladang dan perkebunan. Dengan telah terhubung jembatan Barelang saja masih sepi, bagaimana jika belum ada jembatan ya?

Setelah melewati jembatan kelima, kami memasuki Pulau Galang lalu menuju ke TKP. Setelah membayar tiket sebesar Rp 10.000,- per orang, mobil segera menyusuri jalan terbilang bagus namun sempit. Jam kunjungan 07.30 – 16.30 WIB untuk Hari Senin s/d Jum’at dan 07.30 – 18.30 WIB untuk Hari Sabtu, Minggu dan hari libur lainnya. Tujuan pertama adalah sebuah vihara yang bernama Vihara Quan Am Tu yang lokasinya paling depan. Vihara ini masih aktif digunakan hingga saat ini sehingga bangunannya masih bagus dan terawat. Pemandangan dari vihara ini juga cukup bagus karena lokasinya agak tinggi. Setelah itu kami meluncur menuju ke obyek lain yang lokasinya ternyata cukup jauh dari Vihara Quan Am Tu. Nah, kalau misal ke Pulau Galang tadi naik bis, bagaimana coba masuk ke kawasan ini?

20170406_170249-1024x768
Diatur oleh BP Batam, bukan Pemkot Batam. Bagaimana sih pembagian kewenangan antara Pemkot Batam dengan BP Batam?

20170325_100137

20170325_100155

20170325_100146

Suasananya sepi dan sedikit menyeramkan karena masih berupa hutan dengan pohon-pohon yang masih lebat. Kalau malam hari kayak apa ya? Hi…… Obyek yang kemudian kami temui adalah monumen perahu kayu yang membawa para pengungsi sampai ke Pulau Galang. Terdapat dua buah perahu yang kondisinya masih terbilang utuh, namun bagian bawah sudah diganti semen, mungkin sudah hancur dimakan usia. Di sebelahnya ada satu perahu yang sudah hancur dan tinggal menyisakan sedikit bekas. Saya membayangkan betapa beratnya para pengungsi saat itu. Mereka terpaksa naik perahu berjejal, bertaruh nyawa meninggalkan kampung halaman karena mereka tidak punya pilihan lain. Mereka ingin menemukan kedamaian yang tidak bisa mereka dapatkan di negerinya sendiri.

20170325_102915

20170325_102756

20170325_102613
Bekas sebuah kapal

Selanjutnya kami ngikut saja pak sopir membawa kami berkeliling kawasan ini. Kami lebih banyak melihat-lihat dari dalam mobil. Terlihat beberapa bangunan masih terawat cukup baik, tetapi sebagian besar terbengkalai, tertutup semak-semak dan rusak. Selain Vihara Quan Am Tu, Gereja Katolik Nha Tho Duc Me Vo Nhiem dan Vihara Chua Kim Quang terlihat masih terawat bangunannya. Merawat sebanyak ini bangunan yang mayoritas berbahan kayu memang bukan perkara mudah.

20170325_103550

20170325_103316

20170325_103747

20170325_103742

20170325_103751

20170325_103901

Berkunjung ke Kampung Vietnam ini mengingatkan kita bahwa yang namanya perang hanya akan menimbulkan tragedi kemanusiaan. Orang-orang harus terusir ribuan kilometer dari tanah kelahiran, kehilangan anggota keluarga, saudara tercerai-berai, masa depan yang tidak pasti dan masih banyak lagi. Betapapun kondisi mereka disini lebih baik karena tidak dihantui peperangan, namun yang pasti mereka tidak bahagia. Hidup dengan kondisi yang serba terbatas dan terkurung karena tidak boleh berinteraksi dengan dunia luar dalam jangka waktu yang lama sudah pasti menimbulkan beban psikologis yang berat. Tidak sedikit yang depresi hingga akhirnya sakit dan meninggal atau nekad mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Kisah pilu lain misalnya kasus pemerkosaan dan pembunuhan oleh sesama pengungsi. Semoga kedamaian dan ketenteraman tetap menaungi negara kita tercinta, Aamiin….

FYI, selama perjalanan ke dan dari Kampung Vietnam, kami tidak bertemu dangan Bis Damri yang melayani rute ke Pulau Galang. Jadi jika berkunjung kesini sangat dianjurkan menggunakan mobil sendiri.

Iklan

3 thoughts on “#Trip2Batam (8): Kampung Vietnam di Pulau Galang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s