Ingin Kembali ke Mantan

Orang umum akan menyamakan arti mantan dengan bekas. Bisa benar bisa juga tidak karena tidak semua kata pas menggunakan dua kata tersebut. Bekas gubernur bisa diganti mantan gubernur, bekas preman bisa diganti mantan preman. Tapi barang bekas tidak bisa diganti menjadi barang mantan, bekas luka tidak bisa diganti dengan mantan luka. Saya nggak akan membahas dari segi bahasa, ora ahline….

Saya akan membahas mantan saya yang satu ini. Saya kenal dengan mantan saya ini pada waktu SMP, nama singkatnya BRI yang kalo dipanjangkan menjadi Bank Rakyat Indonesia. Ya, perkenalan saya dengan dunia perbankan pada saat SMP dengan membuka rekening Simpedes di BRI. Ketika ada uang sisa jalan saya tabungkan. Kenapa di BRI? Ya karena itu adalah bank terdekat yang ada, berlokasi di ibu kota kecamatan. BRI memang menjadi bank dengan cabang yang tersebar sampai pelosok.

Saya menjadi nasabah BRI sampai saya masuk kuliah, saya harus berpaling ke BNI dikarenakan Universitas Diponegoro tempat saya kuliah bekerja sama dengan BNI. Kartu Mahasiswa sebagai identitas berguna sekaligus sebagai kartu ATM. Tapi ini bukan kartu ATM pertama saya karena perlu waktu yang cukup lama sampai kartu tersebut dicetak dan dibagikan. Kartu ATM pertama saya dari BCA. Ceritanya waktu itu lagi jalan-jalan di Plasa Simpanglima dan ada stand BCA yang memberikan penawaran dengan cukup menyetor Rp 20.000,- (dua puluh ribu rupiah) sudah dapat buku tabungan plus ATM. Sebagai orang ndeso yang mulai tinggal di kota metropolitan, tertariklah untuk mempunyai kartu ATM untuk sekedar gaya-gayaan hehehe…. Namun ATM dari BCA tidak bertahan lama karena saldonya juga minim sehingga akhirnya nutup sendiri, terlebih Kartu Mahasiswa saya yang sekaligus kartu ATM dari BNI sudah jadi.

undip
Kala itu :V

Hingga pada akhirnya BNI ini saya tinggalkan dan beralih ke lain hati lagi yaitu Bank Mandiri. Ini dikarenakan setelah lulus kuliah saya diterima kerja di sebuah perusahaan yang membayarkan gajinya lewat rekening Bank Mandiri.  Dan jadilah saya nasabah Bank Mandiri sampai sekarang. Saya sih nggak ada masalah menjadi nasabah Bank Mandiri. Sebagai salah satu bank terbesar di Indonesia, Bank Mandiri mempunyai cabang yang banyak dan ATM yang juga tersebar di banyak lokasi, meskipun saya akui masih banyak terkonsentrasi di wilayah perkotaan. Tapi akhir-akhir ini saya tergoda untuk CLBK dengan mantan, cinta pertama saya yaitu BRI.

Kenapa? Begini, dulu anggapan saya BRI itu banknya wong ndeso, kalah kerenlah kalo dibandingkan Bank Mandiri misalnya. Eits, tapi jangan salah, BRI sekarang juga nggak kalah kok dengan bank-bank lain, layanan bank lain juga dimiliki BRI misal sudah mempunyai mobile banking, internet banking dan lain-lain. Dan yang lebih mantab, BRI sekarang mempunyai satelit sendiri yang diberi nama BRISat yang belum lama diluncurkan. Konon, BRI ini menjadi satu-satunya bank di dunia yang mempunyai satelit sendiri. Wajar sih, dengan cabang yang begitu banyak tersebar hingga pelosok negeri, pastinya BRI membutuhkan alat komunikasi yang mumpuni. Mungkin dibandingkan harus menyewa, lebih efisien jika mempunyai satelit sendiri.

Yang lebih membuat saya tertarik adalah adanya agen BRI Link yang tersebar hingga desa-desa. Di Agen BRI Link ini kita bisa melakukan transaksi perbankan seperti setor tunai, tarik tunai, transfer ke bank lain juga bisa, bayar tagihan dan sebagainya. Bayangkan jika kita mendadak butuh uang tunai, kita bisa dengan mudah bisa mendapatkan di agen BRI Link tanpa harus repot-repot mencari ATM. FYI, ATM terdekat dari rumah yaitu BRI dengan jarak 5 km yang ada di ibu kota kecamatan, kalau Bank Mandiri sekitar 30 km yang ada di ibu kota kabupaten. Bank Mandiri kalau nggak salah juga mempunyai semacam BRI Link itu tapi berdasarkan pengamatan, di tempat saya jumlahnya belum banyak. Bagi yang tinggal di wilayah perkotaan, tentu dapat dengan mudah menemukan ATM, tapi di pedesaan tempat saya tinggal ya sangat bertolak belakang. Oleh karena itulah saya tertarik dengan BRI dengan agen BRI Link-nya itu, karena akan sangat membantu sekali.

Meskipun BRI sudah dikatakan sejajar dengan bank-bank lain, tapi menurut saya kesan ndesonya itu masih terasa. Sebagai contoh, logo BRI dari dulu sampai sekarang kayaknya itu terus nggak pernah berubah. Mbok yao dirubah biar terlihat fresh, atau manajemen sengaja mempertahankan logo tersebut karena dirasa pas dengan kebanyakan nasabah yang berada di pedesaan? Untuk agen BRI Link, papan namanya juga hanya seadanya saja seperti terlihat pada foto, sepertinya itu adalah inisiatif agen sendiri. Harusnya bisa diseragamkan dengan misalnya dengan papan nama atau bahkan neon box yang bentuk antar agen BRI Link standar sehingga mudah dikenali.

brilink
Salah satu papan nama agen BRI Link

Ah, galau! Si mantan ini memang menarik sekali…

Iklan

7 thoughts on “Ingin Kembali ke Mantan

  1. si mantan ini sejak punya satelit sendiri apa2 mahal n komersil, transfer sesama br# aja pake bayar huhu, dulu kan pernah ngambil di atm dikenai biaya 100, terus banyak yg protes, terus yg saya gak suka dr bank ini adalah atmnya suka habis uangnya di rina, melati, cuma di polres yang jarang habis… eh, kok malah jadi curhat

  2. Lucu juga plang nya bikinan swadaya agen BRI link. BRI memang paling menguntungkan buat negara dan investor sahamnya, karena spread bunga kredit dengan tabungan di atas 20%. Misal nasabah kalau pinjam kena bunga 26%/tahun, kalau nabung cuma dapat 2%. Meski kantornya sederhana, tapi jaringannya yang sampai ke pelosok,sangat membantu masyarakat dari jebakan lintah darat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s