Jalan-Jalan Mudik Lebaran 2016 (8): Ketep Pass & Desa Wisata Nglinggo

Setelah kemarin cukup nyantai, hari ini kembali jalan-jalan lagi… Kalau kemarin lusa ke pantai, kali ini ke gunung. Tujuannya adalah Ketep Pass di Magelang dan Desa Wisata Nglinggo di Kulonprogo. Yang pertama kami tuju adalah Ketep Pass. Kali ini bapak yang ikut karena belum pernah ke Ketep, pengen lihat katanya. Ya, seperti yang pernah saya bilang, meskipun sudah sepuh, bapak masih semangat kalau jalan-jalan.

Berangkat agak siang sekitar jam 10 karena bapak ada perlu dulu, jadinya menjelang tengah hari baru sampai. Lokasi berada di tengah-tengah Gunung Merapi dan Merbabu dengan ketinggian 1.200 mdpl, meskipun begitu jalan kesana tanjakannya nggak terlalu tinggi dan ekstrem, kendaraan seperti bis juga bisa sampai kesana. Jalan dari Muntilan menuju Ketep Pass juga bagus dan cukup lebar, beberapa bagian belum lama selesai di cor. Dari Ketep Pass, jika cuaca sedang cerah kita bisa melihat 5 gunung sekaligus yaitu Merapi, Merbabu, Sindoro, Sumbing dan Slamet. Tiket masuk ke lokasi sekaligus museum adalah Rp.7.000,- per orang.

20161119_170953-640x480

20160713_131828

Kami Sholat Dhuhur dulu baru menikmati pemandangan Gunung Merapi sambil makan jagung bakar dan nasi pecel. Sayang, gunung yang sangat aktif ini puncaknya tertutup awan, namun pemadangan yang tersaji tetap menyejukkan mata. Padahal kalau cuaca sedang cerah, melihat gunung ini dari jarak yang dekat akan nampak sekali keindahan dan kegagahannya. Kebesaran Allah nampak jelas seperti yang pernah saya lihat dari wilayah Selo, Boyolali, mulai dari lereng hingga puncaknya terlihat sangat jelas waktu itu. Itu kalau Merapi lagi tenang lho ya.

20160713_124545

20160713_123842

20160713_122606
Atapnya mengingatkan saya pada atap drop off Terminal 3 Ultimate CGK yang kontoversial itu 😀

20160713_131752

Selain melihat langsung, kita juga bisa menyewa teropong yang banyak dijajakan disana, tarifnya cuma Rp 5.000,- untuk 1 jam, murah kan? Andaikan nggak tertutup awan pasti akan semakin jelas kalau pake teropong. Kemudian kami masuk ke museum atau dikenal juga dengan nama Volcano Center. Isinya berupa dokumentasi terutama berupa foto-foto aktifitas Gunung Merapi dari tahun ke tahun. Selain itu juga ada sejarah terbentuknya Gunung Merapi, maket Gunung Merapi dengan lingkungan diselilingnya, koleksi batu yang keluar dari perut Merapi, ada juga poster puncak Garuda, dan lain-lain.

20160713_132412

20160713_132603

20160713_133344

20160713_133321

20161119_170909-640x480

Setelah itu kami menuju “Volcano Theatre” dan pas (koyo sinetron yo iso pas) waktu pemutaran akan dimulai. Tiket masuknya Rp 7.000,- per orang, dengan kapasitas bioskop ini sebanyak 78 orang. Film berisi dokumentasi peristiwa terbentuknya Gunung Merapi, saat letusan dahsyat dan peristiwa penting lainnya. Durasi film sekitar 20 menit, tapi kalau membawa anak yang masih balita mending jangan nonton, bisa ketakutan karena ruangan yang gelap dan suara menggelegar, minimal anak usia sekolah yang nonton. Dan waktu itu ada anak kecil yang nangis, mengganggu penonton lain kan?

Setelah itu kami meluncur pulang sekaligus mengarah ke Desa Wisata Nglinggo yang berada di wilayah Desa Pagerharjo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulonprogo tepatnya di kawasan pengunungan Menoreh dengan ketinggian sekitar 900 mdpl. Di desa wisata ini ada dua obyek utama yaitu kebun teh dan air terjun. Wilayah Samigaluh ini nggak begitu asing bagi saya karena mbah Kungnya Nashwa pernah bertugas sekitar 8 tahun disini, mulai dari saya SMP hingga kuliah. Topografi Kecamatan Samigaluh hampir semua perbukitan dan mempunyai udara yang dingin, jadi dulu kalau kesini mandinya pasti menggunakan air hangat.

Waktu itu kebun teh ini sudah ada tapi belum dijadikan obyek wisata, saya juga belum pernah kesana. Untuk sampai ke lokasi tidaklah sulit, ikuti saja jalan menuju Kecamatan Samigaluh, dan jika sudah sampai Kantor Kecamatan Samigaluh terus saja sampai ketemu dengan Pasar Plono. Jalan sampai ke Pasar Plono tersebut memang penuh tanjakan namun belum begitu curam dan jalannya juga cukup lebar dan relatif bagus, pake perseneling 2 juga masih terasa enteng. Di Pasar Plono ini sudah ada gerbang masuk menuju Desa Wisata Nglinggo. Nah, begitu memasuki gerbangnya, kita akan ketemu jalan yang menantang. Langsung oper ke perseneling 1 dan matikan AC, toh udaranya juga dingin kok.

Jalannya sempit meskipun sudah beraspal bagus, tanjakannya curam banget. Mesti bergantian untuk lewat kalau ketemu mobil lain. Di sebagian ruas jalan sampingnya tebing dan disamping satunya jurang yang sangat dalam. Jadi kalo kesini mesti bawa kendaraan yang benar-benar fit dan rem yang bagus. Dari gerbang sampai ketemu loket tiket sekitar 3 km, dan dari loket tiket ke lokasi kebun teh masih sekitar 1 km lagi. Harga tiket Rp. 3.000,- per orang. Sulitnya medan terbayar kok dengan pemandangan yang menyejukkan diatas. Oiya, untuk sampai ke kebun teh dari tempat parkir kendaraan mesti berjalan naik sekitar 200 meter, tapi ada jasa ojek yang mengantarkan dengan tarif Rp 5.000 jika kita nggak mau berjalan.

20161119_171011-640x480

20160713_161505

20160713_161237

20160713_161426

Jangan bayangkan kita akan menjumpai kebun teh yang terhampar luas seperti di Puncak, karena lokasi kebun teh berada di lereng yang cukup terjal. Kebun teh disini dikelola oleh PT. Pagilaran dengan produk utama teh hijau. Mengingat waktu sudah sore, kami nggak bisa berlama-lama disini. Kami turun tapi mesti ngantri dulu karena dari bawah ada mobil yang naik. Ada petugas  dengan radio komunikasi yang mengaturnya.

20160713_162926
Saat menunggu giliran turun.
20160713_162907
Di belakang itu lokasi parkir kendaraan

Dalam perjalanan pulang kami mampir di air terjun yang masih satu lokasi, jadinya nggak perlu bayar tiket lagi, namanya Grojogan Watu Jonggol. Lokasinya dari jalan tadi harus belok dipercabangan jalan sekitar 500 meter. Jalannya relatif datar tapi masih berupa jalan batu dan sempit. Dari lokasi parkir kita mesti menuruni jalan setapak dengan kombinasi batu dan tanah untuk bisa melihat air terjun tersebut. Lokasinya diapit tebing tinggi yang terjal dan masih benar-benar alami, pepohonan juga masih lebat. Air terjunnya kecil tapi tinggi dan menurut penduduk sekitar, kalau musim kemarau airnya tidak mengalir. Tetapi jika kita ingin sampai dibagian bawah, kita mesti turun lagi dengan jalan yang terjal.

20160713_164215

20160713_164731

20160713_164529

20160713_164601

20160713_164357
Lokasi diapit oleh lereng terjal khas Bukit Menoreh yang masih hijau.

Melihat kondisi tersebut dan waktu yang semakin sore, kami hanya sampai bagian atas saja lalu kami pulang, selepas Magrib sampai rumah.

Iklan

3 thoughts on “Jalan-Jalan Mudik Lebaran 2016 (8): Ketep Pass & Desa Wisata Nglinggo

  1. kebun teh di jogja saya malah baru tau mas, pertama kali dan terakhir ke ketep jaman smp kalo gak salah, foto2 pake kamera teman yg harus beli film dulu wkwkwk… sekarang ketep udah bagusan yah, eh iya..atapnya mirip terminal bandara yg katanya mau nyaingin changi tp malah kena banjir, sempat mati lampu, n konstruksinya ada yg bilang aneh haha *ups

    • Kalau untuk wisata memang belum lama kaykanya mas, jadi belum banyak yang tahu. T3U CGK itu ancur banget, desain memang mewah tapi eksekusinya payah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s