Jalan-Jalan Mudik Lebaran 2016 (7): “Numpak Kol”

Setelah Senin kemarin jalan-jalan ke pantai, Hari Selasa ini nggak ada agenda jalan-jalan, rencananya hanya nyuci mobil saja. Udah dipakai kemana-mana dan apalagi kemarin habis dari pantai, nggak enak sama yang punya hehehe….

Hari ini hari pertama cucian buka setelah libur lebaran, semoga nggak ngantri banyak, Nashwa mau saya ajak biar saya ada temannya dan nanti sekalian pesan tiket Prameks. Dan ternyata antrinya lumayan banyak, ada 3 mobil yang belum dicuci.

Awalnya mau nunggu tapi pasti lumayan lama ini apalagi orang sebelah ngrokok pula, aduh nggak nyaman blas kalo gini. Saya punya ide beli tiket Prameks dulu, naik angkudes ke stasiunnya. Waktu saya sampaikan ke Nashwa dan dia mau saja, oke deh… Setelah menunggu sekitar 10 menit, akhirnya angkudesnya datang. Di sini orang menyebut angkutan ini “kol”, mungkin karena awalnya banyak menggunakan mobil Mitsubishi jenis “Colt Diesel”, jadinya biar gampang disebut “kol”. 😀

Dilihat dari fisiknya mobil ini sudah tua, nggak tahu sudah berapa usianya. Mungkin seharusnya sudah nggak layak jalan. Tapi ya itulah kondisi angkutan umum disini, hidup segan, mati tak mau. Mereka tinggal bertahan dengan kondisi yang ada, mau peremajaan nggak mungkin karena penumpang kini sepi sekali, beda dengan era 90-an dulu dimana angkutan umum berjaya. Sekarang? Kalah sama sepede motor, daripada bayar ongkos, mending buat nyicil motor, gitu pikiran orang sekarang. Apalagi sekarang angkutan umum semakin sedikit, jadi waktu tunggu semakin lama. Belum lagi suka ngetem, makin malaslah orang naik angkutan umum. Semoga saja angkutan umum ini dan angkutan umum yang lainnya masih mampu bertahan, menghidupi pemilik dan pekerja serta melayani orang yang tetap membutuhkan angkutan umum.

Mobil berjalan pelan saja mungkin sekitar 20 atau 30 km/jam, untuk ngirit BBM kali ya. Penumpang hanya 4 orang termasuk kami, dan nambah 1 lagi di perjalanan. Nashwa senang karena banyak angin yang masuk, dia memang nggak senang kalo di mobil pake AC. Mobil ini mungkin hanya penuh saat jam berangkat dan pulang sekolah atau hari pasaran saja. Padahal dulu mobil ini sering penuh sampai ke pintu dan ditambahi kursi kayu biar tambah muat banyak. Bagi saya naik angkutan umum punya keasyikan tersendiri, nggak capek karena kita tinggal duduk dan bisa tidur juga, sampai deh di tujuan. Bedanya kalau dulu kita biasa ngobrol-ngobrol dengan penumpang di sebelah kita, sekarang pada sibuk dengan gadget masing-masing…

20160712_094456
Maaf ya pemirsa, backlight. Jadinya muka saya nggak kelihatan 😀
20160712_094537
Interiornya
angkudes-mogok-kulonprogo
Tampang luarnya begini. Ini lokasi di Terminal Wates. (Foto: Suara Merdeka)

Kurang lebih 15 menit kemudian kami sampai di Stasiun Wates. Kebetulan form pemesanan tiket sudah saya isi, jadinya tinggal ngantri. Ada 5 orang yang antri. Saya perhatikan ada juga yang membeli tiket kereta jarak jauh, kenapa ya mereka nggak beli saja online atau di minimarket yang lokasinya dekat, mesti ke stasiun? Kalo tiket Prameks sih memang bisanya dibeli/dipesan langsung di stasiun.

Kok beli tiket Prameks, mau kemana sih? Gini nih, saya kembali ke Jambi kan mau mampir rumah kakak di Depok, jadinya saya naik kereta api dulu, nah seperti yang pernah saya tulis di bagian pertama, karena saya naik kereta eksekutif Taksaka jadinya nggak bisa naik di Stasiun Wates. Jadi alternatifnya ya naik di stasiun terdekat, kalo nggak Jogja Tugu ya Kutoarjo. Dan kali ini saya pilih Stasiun Kutoarjo karena jarak waktu kedatangan Prameks dan Taksaka agak longgar, 1 jam lebih. Beda kalo di Stasiun Jogja Tugu, hanya sekitar 30 menit. Takutnya ada apa-apa, misalnya keretanya telat, antrian panjang karena musim lebaran, dll. Ya saya pilih yang aman-aman saja. Tarif Prameks Wates – Kutoarjo Rp. 8.000,- per orang.

Setelah dapat tiket yang saya cari, ya kembali ke tempat cuci mobil tadi, sama kembali numpak kol. Dan sampai di tempat cucian, mobil belum juga mulai  dicuci. Ya musti sabar nunggu sampai selesai, tapi sudah tenang karena tiket Prameks sudah di tangan.

Iklan

7 thoughts on “Jalan-Jalan Mudik Lebaran 2016 (7): “Numpak Kol”

  1. jadi ingat saya kecil dulu, sering bareng ayah / ibu naik “kol” kalo ke pasar .. “kol” sekarang tinggal cerita, diganti dengan bus yg lebih besar, tp terkadang sebagian orang masih setia dengan istilah itu 🙂

    • Waktu saya SMA dulu saat angkutan umum jaya, kol juga sempat beberapa diganti bis kecil ukuran 3/4, tapi sekarang bis di rute tersebut sudah punah.

  2. ya mas, bus 3/4 .. “bis cilik” kami nyebutnya dulu.. busnya yg punah atau rutenya juga ikutan punah? sayang sekali yah..
    ngomong2 soal angkutan umum, kata temen dulu di bangko sempat ada angkot/tambang yg dalam kota ya mas?

    • Bisnya mas, rutenya ya rute kol tersebut. Rute lainnya juga miris lihatnya, armada tinggal dikit. 1 jam sekali belum tentu ada, padahal dulu 10 menit sekali bahkan sering sampai salip-salipan.
      Nggak tau kalo saya itu mas, tapi memang beberapa kali saya lihat mobil mirip angkot di Bangko, warnanya merah. Sampai sekarang juga masih sering lihat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s