Jalan-Jalan Mudik Lebaran 2016 (1): Jakarta

Mudik lebaran tahun 2016 ini menggunakan pesawat dari Jambi ke Jakarta terus disambung kereta api ke Jogja. Selisihnya sih nggak banyak kalo lanjut menggunakan pesawat karena lebaran gini tiket kereta api juga muahal, Rp 480.000,- per orang. Pengen jalan-jalan dulu di Jakarta, karena selama ini di Jakarta seringnya hanya transit saja. Jadwal pesawat mendarat di CGK jam 09.25 WIB dan kereta api berangkat dari Gambir jam 21.00 WIB. Wuih lama banget dong nunggunya. Ya iyalah kalo hanya duduk di stasiun nunggu kereta api berangkat yang lama pake banget. Tapi di Jakarta itu waktu yang singkat. Dari pada bengong nunggu keberangkatan kereta api ya jalan-jalan saja di Jakarta. Makanya itu saya sengaja ambil penerbangan pagi dan keretanya malam biar bisa jalan-jalan dulu hihihi…. Bukan jalan-jalan biasa lho, tapi wisata edukasi ceritanya.

Pesawat mendarat sesuai jadwal, kemudian nyari bis Damri yang ke Stasiun Gambir. Saya memang ingin mengenalkan pada Nashwa untuk naik transportasi umum, karena kalo di rumah kemana-mana ya pake kendaraan pribadi, transportasi umum minim banget. Biar dia tahu kalau naik transportasi umum itu bisa juga nyaman kok. Kira-kira pukul 10.15 WIB bis sudah meluncur ke Stasiun Gambir dan sekitar sejam kemudian sampai. Masuk ke stasiun menuju ke tempat penitipan barang, tapi mampir dulu ke Bakso Malang, ngisi perut sebelum jalan-jalan. Musafir kan ada keringanan boleh tidak berpuasa to? Hehehe… Dapat keringanan ya dipakai dong, padahal di hotel tadi kami ikut makan sahur. Kok di hotel? Ya karena jarak rumah dari bandara yang jauh, untuk ikut penerbangan pagi harus menginap di hotel.

Lanjut ya, setelah ngisi perut kami ke tempat penitipan barang. Tarifnya Rp 3000,- per jam per barang, kami menitipkan 2 tas. Lalu saya cetak boarding pass kereta api dulu biar tenang. Setelah itu kami jalan menuju halte Trans Jakarta yaitu halte Gambir 2. Tujuan pertama jalan-jalan ini adalah keliling menggunakan Bis Tingkat Wisata dan turun di Musem Nasional alias Museum Gajah. Tempat halte Bis Tingkat Wisata terdekat adalah di Masjid Istiqlal, oleh karena itu harus naik Trans Jakarta dulu untuk menuju kesana. Karena Trans Jakarta sudah menggunakan e-tiket alias tidak lagi menggunakan transaksi tunai, maka dari rumah saya sudah membeli kartu e-money dari Bank Mandiri.

Ada cerita waktu saya membeli kartu e-money ini. Saya datang ke Bank Mandiri dan bilang ke CS bahwa saya bermaksud ingin mendapatkan kartu e-money. Lah, petugasnya malah kayak kaget, dia bilang “e-money?” Trus dia bilang “Sebentar ya pak, saya tanyakan dulu” kata dia sambil berjalan ke dalam sebuah ruangan. Tak lama kemudian dia datang dan menjelaskan bahwa disini belum tersedia kartu e-money, yang ada baru di Kota Jambi. Cukup kaget tapi saya maklumi karena di kota kecil gini uang plastik prabayar pasti belum begitu banyak bisa digunakan karena minimnya merchant yang melayani. Si CS menyarankan saya untuk membeli di indomaret karena indomaret dan Bank Mandiri mengeluarkan indomaret card yang merupakan co branding indomaret dangan Mandiri e-money.

Oke deh, saya meluncur ke indomaret terdekat dan memang tersedia indomaret card di meja kasir. Saya ambil dan bilang ke kasirnya mau beli ini dan sekalian tolong diisi saldonya. Eh, si kasir malah bingung sambil membolak-balik kartu itu lalu bilang, “Maaf pak, saya tidak tau caranya”. Weleh, piye to iki? Masak iya dulu nggak dilatih sebelum kerja? Lalu dia menyarankan saya ke indomaret lainnya. Singkat cerita saya kesana dan disana kasirnya lebih pintar dan akhirnya saya mendapatkan kartu e-money, hore…..! 😀

20161120_155412-640x480
Kartu Mandiri e-money, co branding dengan indomaret, dikasih label “indomaret card

Kembali ke topik, kami masuk ke halte dan nggak berapa lama bis datang, dapat bis single baru bantuan Kemenhub, sehingga bisnya masih kinclong dan AC-nya adem. Tempat duduk terisi penuh tapi yang berdiri nggak banyak, jadi ya masih nyaman, lagian hanya dekat turunnya di Halte Stasiun Juanda. Keluar dari Halte menuju ke halte Bis Tingkat Wisata, tapi belum terlihat ada bis yang mangkal. Lihat jam sebentar lagi adzan Dhuhur, oleh karena itu kami putuskan untuk sholat dulu sebelum jalan-jalan.

20160628_114347

Selesai sholat, dan menuju halte Bis Tingkat Wisata. Pas banget, rejeki anak sholeh kayaknya, sudah ada 2 bis yang mangkal. Saya ambil rute Jakarta Modern yang melewati Bundaran Hotel Indonesia. Untuk ke Museum Nasional naik Bis Tingkat Wisata, yang tercepat sebenarnya adalah rute History of Jakarta, tapi saya ambil yang rutenya lebih jauh biar sekalian melihat pusatnya Jakarta sambil melihat juga proyek transportasi umum masa depan Jakarta, MRT.

24789148476_871c893eca_b
Begini tampang bis yang kami naiki. CSR Coca-Cola (Foto: Adriansyah Yasin)
dd-modern
Rute bis tingkat wisata “Jakarta Modern” (Foto: SSCI Forum)
dd-history
Rute bis tingkat wisata “History of Jakarta” (Foto: SSCI Forum)
dd-art
Rute bis tingkat wisata “Art & Culinary” (Foto: SSCI Forum)

Beruntungnya lagi dapat bangku paling depan. Bis Tingkat Wisata ini kebanyakan adalah CSR perusahaan swasta, kebetulan yang kami naiki ini bis CSR dari Coca Cola. Bis melaju pelan dan kadang tersendat kemacetan lalu lintas karena bis melaju di jalur umum bukan jalur khusus seperti Trans Jakarta, tapi Nashwa nampak senang menikmatinya. Oiya, bis ini gratis lho, meskipun begitu penumpang tetap diberi karcis.

20160628_125111
Nashwa menikmati streetscape Jekardah…
20160628_130141
Menjelang Bundaran HI, proyek MRT terus dikerjakan
20161119_171041-640x480
Kayak gini tiketnya

Sekitar jam 13.10 WIB sampai di Museum Nasional dan masuk untuk menikmati koleksi yang ada. Museum ini lebih terkenal dengan Museum Gajah dengan ikon patung gajah di depannya. Tiket masuknya murrah meriah, Rp 5000 untuk dewasa dan Rp 2000 untuk anak-anak. Pengunjungnya tidak begitu ramai mungkin karena puasa dan pas hari kerja. Koleksi yang ada terutama benda-benda baik dari jaman sejarah maupun pra sejarah baik dari batu maupun logam seperti perunggu. Ada arca, relief, mata uang kuno, dan lain-lain. Menurut sumber terpercaya, koleksi yang ada mencapai lebih dari 140.000 benda dan merupakan museum terlengkap di Indonesia. Nashwa nampak senang sambil membaca keterangan yang ada di masing-masing koleksi.

20160628_133927

20160628_133041

20161119_171154-640x480
Selain harga, desain tiket antara dewasa dan anak-anak juga berbeda

Setelah dirasa cukup, kami melanjutkan ke tujuan selanjutnya yaitu Museum Bank Indonesia yang berada di Kawasan Kota Tua. Alternatif kesana ada 2, yaitu naik Bis Tingkat Wisata lagi atau naik Trans Jakarta. Dengan alasan efisiensi waktu, maka saya putuskan untuk naik Trans Jakarta saja yang haltenya tepat berada di depan Museum Nasional, tinggal nyebrang jalan. Dan benar, dengan naik Trans Jakarta kami lebih cepat sampai ke tujuan, Museum Bank Indonesia. Turun di Halte kota dan berjalan kaki sebentar sudah sampai ke Museum Bank Indonesia.

Trans Jakarta Koridor 1 ini memang merupakan koridor paling bagus karena jalurnya steril dari kendaraan lain sehingga kecepatan dan ketepatan waktu bisa diandalkan. Selain itu bisnya juga banyak dan rata-rata bisa gandeng. Kami dapat bis gandeng baru merk Scania, nyaman karena dapat tempat duduk. Saya tanya Nashwa senang nggak naik Trans Jakarta? Iya senang, bisnya enak dan dingin katanya. Wah sip deh, setidaknya dia sudah mendapatkan kesan yang positif karena waktu saya bilang nanti di Jakarta jalan-jalannya naik bis dia bilang nggak mau, “Naik taksi saja” kata dia.

Sampai di Museum Bank Indonesia sekitar jam 14.20 WIB dan tertera pengumuman bahwa pada Bulan Ramadhan jam buka dikurangi 1 jam yang artinya jam 15.00 WIB sudah tutup, waduh cuma punya waktu sekitar setengah jam saja. Waktu yang jelas teramat sangat singkat di sebuah museum. Yo wislah piye meneh. Harga tiket Rp 5000 per orang, sama untuk dewasa maupun anak-anak. Berbeda dengan di Museum Nasional yang masih memperbolehkan membawa tas tenteng atau tes kecil tempat gadget ke dalam, disini semua tas harus dititipkan, hanya diperbolehkan membawa hape, kamera dan semacamnya.

Segeralah kami masuk untuk ke dalam ruangan koleksi yang dimulai dari sejarah perbankan di Indonesia mulai jaman penjajajahan dulu, kemudian berlanjut sesuai urutan waktu sampai kondisi sekarang ini. Pada saat krisis moneter 1998 yang lalu juga digambarkan di sebuah ruangan yang didominasi warna merah. Selain itu ada juga koleksi mata uang dari berbagai era, replika emas batangan, ruang beserta meja kerja jaman dulu, dll. Selain itu ada juga koleksi uang dari berbagai negara. Karena waktu yang sangat terbatas, kami hanya sekilas-sekilas saja pada suatu obyek. Jam 3 kurang sepuluh sudah ada pengumuman agar pengunjung segera keluar dari museum.

20160628_143153
Gak tau kenapa mendelik gitu 😀

20160628_143052

20160628_143644

20160628_144713
Bukan emasnya Dimas Kanjeng lho 😛
20160628_143941
Nashwa jadi Kartini. Jaman dulu punya uang ini sudah banyak banget 😛

20160628_150121

20161119_171131-640x480

Agak kecewa terutama Nashwa yang tampak lebih senang dibandingkan di Museum Nasional. Dia bilang “Harusnya tadi kesini dulu pak…” Yo wis nak, kapan-kapan kita kesini lagi. Setelah mengambil barang titipan, kami keluar dan duduk didepan gedung istirahat dulu sambil ngisi perut pake roti jatah dari pesawat tadi yang belum dimakan. Sebenarnya masih pengen jalan ke kota tua tapi kok sudah capek ya, belum nanti masih menempuh perjalanan semalam di kereta api. Oleh karena itu saya putuskan kembali saja ke Stasiun Gambir.

20160628_152829
Di Halte Kota
maxresdefault
Ini bis Scania gandeng waktu launching pertama kali tahun 2015. (Foto: Indo Bus Spotters)

Kembali ke halte Kota dan naik Koridor 1 lagi menuju Halte Harmoni untuk transfer ke Koridor 2. Dapat bis gandeng Scania lagi dan penumpangnya sedikit, kursi nggak terisi penuh jadinya nyaman tapi begitu sampai Harmoni dan terlihat antrian ke koridor 2, panjang banget dan di bis ketiga baru bisa naik dan itupun berdiri berdesak-desakan, tapi AC-nya dingin jadinya nggak terasa panas. Turun di Halte Gambir 1 dan Nashwa bilang, “Bis yang tadi nggak enak, desak-desakan…”

Ya itulah memang transportasi umum di Indonesia belum ideal, tapi jangan kapok ya untuk naik transportasi umum. Tapi sekarang ini Trans Jakarta pelayanannya sudah semakin baik, seperti pengadaan bis baru terus dilakukan, pembenahan manajemen, pembukaan rute baru yang kelak akan menggantikan semua bis kota macam Metro Mini dan Kopaja itu, dll. Pokoknya bedalah dengan beberapa tahun lalu, ada bis yang sudah keropos, AC-nya bocor sampai membasahi kursi, dll. Tinggal sekarang kesadaran pengguna kendaraan pribadi untuk tidak menyerobot jalur busway sukur-sukur mau beralih menggunakan transportasi umum.

Sampai Stasiun Gambir kira-kira jam 4 sore, segera menuju masjid untuk Sholat Ashar dan setelah itu ya klesotan di emperan masjid sambil istirahat untuk selanjutnya menunggu kereta berangkat jam 9 malam nanti. Habis sholat Magrib, kami masuk ke dalam stasiun untuk makan malam dan semua restoran penuh. Setelah mencari-cari akhirnya dapat, nggak bisa milih-milih yang penting perut terisi kalau situasi kayak gini. Habis makan saya ambil tas yang tadi saya titipkan, habisnya Rp 42.000,- untuk 2 barang selama 7 jam. Selanjutnya ke lobi stasiun untuk menunggu panggilan masuk ke ruang tunggu.

Lobinya penuh banget, banyak banget klesoton di lantai. Mudik menggunakan kereta api gini kerasa banget suasanya mudik yang krodit, beda kalau menggunakan pesawat. Sesuai jadwal keberangkatan jam 9 malam, jam 8 alias 1 jam sebelumnya kami baru diperbolehkan masuk ke ruang tunggu. Kereta terlambat 30 menit dari jadwal dan Nashwa sudah tampak lelah dan ngantuk. Begitu kereta berangkat tidak lama dia langsung tertidur pulas. Oiya, kereta yang saya naiki ini adalah kereta tambahan yaitu Taksaka Lebaran, kereta regulernya sudah ludes tiketnya dari jauh-jauh hari. Tiket kereta ini lebih mudah didapat, kalo nggak dapat tiket mungkin nggak jadi jalan-jalan di Jakarta.

Karena capek, sayapun juga tidur tapi tidak begitu nyenyak dan berkali-kali terbangun. Makanan yang kami pesan untuk makan sahur diantar sekitar pukul setengah 4. Makanan di kereta sekarang tidak enak, karena berupa makanan instan yang hanya dipanaskan ketika akan dihidangkan, udah gitu mahal dan sedikit. Beda dengan beberapa tahun lalu yang memang fresh dimasak sebelum dihidangkan.

20160629_062050
Pagi itu di Stasiun Tugu, Jogja

Stasiun terdekat dari rumah adalah Stasiun Wates, tapi karena kereta eksekutif tidak berhenti disitu, jadinya kami nanti turun di Stasiun Tugu Jogja dan kembali ke Wates naik Prameks. Bisa juga sih turun di Stasiun Kutoarjo, tapi kemungkinan besar tiket Prameksnya habis, karena hasil googling mengatakan begitu. Kereta sampai di Stasiun Tugu terlambat 1 jam dari seharusnya jam 05.00 WIB baru tiba jam 06.00 WIB, padahal jadwal Prameks terdekat jam 06.30 WIB, waktu yang cukup mepet untuk berpindah kereta, tapi masih cukup sih. Setelah membeli tiket Prameks dan tidak lama menunggu, keretanya datang. Penumpangnya sedikit, kami dapat tempat duduk dan setengah jam kemudian Prameks sudah sampai di Stasiun Wates. Prameks dari Kutoarjo juga pas datang dan benar penumpangnya penuh sampai ada yang berdiri. Jemputan sudah siap, kami meluncur ke rumah dan sampai juga di kampung halaman, tempat saya lahir dan tumbuh besar. Alhamdulillah.

Iklan

6 thoughts on “Jalan-Jalan Mudik Lebaran 2016 (1): Jakarta

  1. saya juga senang naik kendaraan umum mas, makanya saya ajak anak2 sesekali naik angkot kalo ke jambi, nggak naik taksi terus.. sayang di bangko kendaraan umum cuma ojek, Nashwa suka ke museum kah? keren sekali .. kemaren saya gak dapet tiket kereta, jadi terpaksa jambi-jakarta-solo pesawat, biasanya saya kalo lebaran ya naik pesawat smp jakarta aja, jakarta ke jawanya bus 🙂

    • Naik angkutan umum itu enaknya tinggal duduk dan bisa tidur, sampai tujuan. Bonusnya juga ada kalau pas dapat pemandangan bening hahaha….
      Di Bangko sekarang ada bis kota bantuan kemenhub itu lho mas, tapi nggak tau sudah jalan atau belum. Kayaknya Nashwa suka mas kalau saya ajak ke museum. Itu tiket kereta tambahan jadinya bisa dapat, tapi tiket baliknya perjuangannya cukup susah, nantikan di bagian selanjutnya 😀
      Kalo saya naik bis dari Jakarta ke Jogja pas lebaran nggak saya jadikan opsi mas, macetnya luar biasa. Tapi Semoga kalo tol trans Jawa sudah jadi bisa lancar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s