Kisah Sebatang Pohon Talok

Di depan rumah saya ada sebatang pohon yang dalam bahasa Jawa disebut Talok. Nama resminya adalah pohon Kersen. Tapi orang sini nyebutnya pohon Ceri, ya memang sih mirip ceri buahnya, ceri ndesooo tapi. Dulu awalnya niat untuk menanamnya sebagai peneduh karena pohon ini gampang dan cepat besarnya, dahannya banyak serta rimbun. Soal buahnya sih saya nggak peduli, hanya sesekali saja memetik untuk dimakan.

DSCN2482
Pohonnya kelihatan dikit dari foto lama karena emang nggak ada niat mengabadikan pohon ini sebelum ditebang

Setelah pohon ini cukup besar malah timbul niat dihati untuk mengupgrade dengan pohon buah yang lebih berkelas dari pada pohon Talok. Dan sore kemarin sehabis pulang kerja, saya ambillah parang dan satu persatu dahan saya potong hingga sampai puncaknya batangnya juga saya potong dan resmilah pohon Talok saya roboh.

Talok
Tumbang dan tinggal kenangan

Sambil duduk istirahat, saya melihat pohon yang sudah tumbang dan muncul sedikit perasaan bersalah. Kenapa? Ya selama ini saya memang tidak pernah berorientasi pada buahnya, tapi sekali lagi hanya sebagai peneduh. Tapi pohon ini menjadi tujuan favorit anak-anak disekitar rumah. Mereka hampir setiap hari datang berkelompok tiga sampai lima orang yang berbeda-beda untuk mencari buahnya yang sudah matang, sehingga saya jarang sekali melihat ada buah yang matang karena pasti sudah dipetik.

“Om… minta buah cerinya ya…” begitu teriak mereka jika saya sedang di rumah. Mereka begitu asik melihat kesetiap dahan mencari buah yang matang dan kadang-kadang mereka berlomba siapa yang mendapat buah paling banyak. Di kompleks perumahan ini saya lihat memang hanya rumah saya yang menanam Talok. Saya jadi membayangkan besok, lusa, ketika mereka sudah janjian untuk mencari buah Talok dengan bersemangat dan ketika sampai dan tahu bahwa pohonnya sudah ditebang mereka pasti akan sangat kecewa. Mereka kehilangan salah satu keasyikan yang selama ini mereka jalani bersama-sama. Maaf ya anak-anak manis… Duh malah jadi baper nih gara-gara pohon talok 😀 Semoga saja kalian akan mendapat pengganti sesuatu yang jauh lebih asyik daripada memburu buah Talok atau Ceri kalian menyebutnya.

Soal penggantinya saya berniat menggantinya dengan pohon Mangga. Nanti akan ditanam jika sudah masuk musim penghujan. Tapi saya juga harus siap-siap iklas tidak bisa mencicipi buahnya jika sudah berbuah. Ya namanya rumah belum ditempati, nggak bisa mengawasi….

Iklan

3 thoughts on “Kisah Sebatang Pohon Talok

  1. Hallo, ini kunjungan pertama saya. Wah, blog Anda sangat bagus. Bahasa penyampaian Anda sangat ringan dan mudah dipahami.

    Sayang sekali ya pohonnya ditebang. Padahal tidak harus diganti, cukup ditambahkan saja pohonnya supaya sejuk dan teduh.

    Salam kenal ya Pak/Mas… 😊

    • Salam kenal juga mas…, wah jauh mas blog saya dari kata bagus, lha wong ini baru belajar nulis. Awalnya juga gitu mas, mau saya tambah poho tanpa ditebang tapi kayaknya terlalu mepet

  2. Jadi ingat pohon kersen di rumah paman saya. Saking sibuk kerja dan tak sempat mengurus rumah, daun-daun pohon kersen di halaman berguguran menutupi tanah. Buahnya selalu dipetiki anak-anak tetangga yang berlalu lalang. Terkadang saya juga suka asyik membaca majalah di salah satu dahannya. Asyik juga baca majalah sambil mengunyah kersen. Tetapi sayang rumah itu terpaksa dijual karena paman mutasi kerja dan sekeluarga pindah ke provinsi tetangga. Sekarang tiap kali melewati bekas rumah paman, pohon kersennya tinggal kenangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s