Label Obat Dihilangkan, Kenapa?

Ini hanya repost dari tulisan yang sama yang pernah saya tulis di Kompasiana. Sebenarnya saya sudah cukup lama ingin menulis tentang ini karena ingin tahu jawaban dari pertanyaan yang menjadi judul tulisan saya, tetapi baru sekarang sempat untuk menulisnya. Saya tinggal di Kabupaten Merangin Provinsi Jambi, apakah di tempat lain juga ada hal serupa?

obat baru
Gini ni wujudnya

Disini saya menemukan banyak dokter yang ketika memberikan obat sirup dalam botol, label yang tertempel di botol obat dihilangkan dan diganti label nama dokternya beserta aturan pakai obat tersebut seperti yang terlihat pada foto yang saya lampirkan. Jadi obat tersebut diberikan kepada pasien hanya botol saja tanpa kotaknya. Saya menemukan hal seperti ini paling tidak sudah empat dokter. Memang ada juga dokter yang memberikan obat sirup tanpa dihilangkan labelnya alias masih utuh dengan kotaknya, tetapi jumlahnya sedikit. Ya memang saya tidak “mencoba” semua dokter dan membuat riset tentang ini dan membandingkan berapa persentase keduanya.
Yang menjadi masalah bagi saya, bukankah pasien juga mempunyai hak untuk mengetahui obat apa yang diminum? Khasiatnya, efeknya, dan hal-hal apa yang harus dihindari saat minum obat itu? Hal tersebut biasanya tercantum dalam kotak dan botol obatnya, ada juga selembar kertas yang berisi penjelasan lebih lengkap. Tetapi kenapa itu justru malah dihilangkan?
Atas pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini, saya juga mempunyai jawaban sendiri yang berupa dugaan, semoga dugaan saya ini salah. Saya menduga dokter melakukan hal ini karena khawatir pasien akan tahu merk obat yang diminum dan ketika dirasa cocok dan sakitnya sembuh, di lain waktu jika pasien sakit serupa dia tidak akan kembali berobat ke dokter tersebut tetapi hanya akan membeli obat ke apotek atau toko obat, sehingga sang dokter akan kehilangan pasien. Sekali lagi ini hanya dugaan dangkal saya, semoga salah.
Dari tulisan inilah saya ingin menemukan jawaban yang tepat dari pertanyaan saya tersebut, yaitu kenapa label obat harus dihilangkan. Dan yang kedua apakah ada kode etik di dunia kedokteran/medis yang mengatur hal ini? Bagi teman-teman khususnya dokter atau pihak yang lebih berkompeten tentang hal ini bisa membantu menemukan jawaban dari dua pertanyaan saya tersebut. Terima kasih.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s