FENOMENA KORAN LOKAL

Era reformasi berimbas pula pada kebebasan pers yang diwarnai dengan terbitnya ratusan koran lokal diberbagai pelosok Indonseia. Kemudahan izin dan semangat kedaerahan lewat otonomi daerahlah yang menyebabkan koran lokal menjamur. Salah satu yang agresif menggarap koran lokal adalah Jawa Pos Group, sebuah raksasa media dari Surabaya, melalui Jawa Pos National Network (JPNN). Adalah Dahlan Iskan, pendiri Jawa Pos, yang terinspirasi setiap daerah mempunyai koran lokal sendiri-sendiri. Kini JPNN mempunyai banyak koran lokal yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Koran lokal tersebut bisa berdiri sendiri ataupun menjadi bagian dari koran utama Jawa Pos. Kalau boleh saya membuat kategori, saya membagi tiga tipe koran berdasar luas wilayah edarnya. Pertama, koran nasional yaitu koran yang mempunyai wilayah edar hampir ke semua daerah di Indonesia. Kedua, koran daerah yaitu koran yang wilayah edarnya mencakup wilayah provinsi dan ke sedikit ke provinsi tetangga. Ketiga koran lokal yang wilayah edarnya hanya 1 kabupaten/kota dan sedikit ke kabupaten/kota tetangga.
Nah yang akan saya bahas ini adalah koran lokal “Radar Sarko”. Dari namanya tentu kita tahu kalau ini adalah anak JPNN. Koran ini terbit di Kabupaten Merangin, Jambi dengan wilayah edar di Kabupaten Merangin dan sedikit ke kabupaten tetangga, yaitu Kabupaten Bungo dan Kabupaten Sarolangun karena di kedua kabupaten tersebut juga mempunyai koran lokal yaitu “Bungo Pos” dan “Sarolangun Ekspres” yang juga anak JPNN. Di Provinsi Jambi, JPNN juga mempunyai koran daerah yang terbit dari Kota Jambi yaitu “Jambi Independent” dan “Jambi Ekspress” serta koran kriminal “Posmetro Jambi”.
Di Jawa, sepanjang pengetahuan saya, tidak ada koran lokal yang hanya beredar dan bisa hidup di satu kabupaten. Minimal wilayah edarnya 1 eks karesidenan. Contoh, Radar Semarang beredar untuk semua wilayah Demak, Kendal, Grobogan, dst. Tidak ada Radar Kendal, Radar Demak, dll. Tetapi disini, koran lokal bisa hidup dan tetap eksis walaupun dengan segenap “keprihatinan”, padahal penduduk Kabupaten Merangin kurang dari 300.000 jiwa.
Radar Sarko terbit setiap Hari Senin sampai dengan Sabtu dengan 12 halaman. Dari 12 halaman tersebut, paling-paling hanya memuat berita sebanyak 6-7 halaman, selebihnya berisi iklan ataupun iklan terselubung berbentuk advertorial yang besar-besar. Berita koran ini 100 % lokal, kalaupun ada berita nasional atau olah raga, itu dikarenakan iklan yang sedikit sehingga ada ruang kosong untuk berita tersebut. Tetapi berita tersebut hanyalah berupa berita copy paste dari JPNN, sehingga jangan heran kalo antar koran lokal atau koran daerah kita menemukan berita yang sampai titik komanya sama persis.
Ya, memang iklan adalah darah bagi sebuah koran dan profit tentunya adalah alasan Dahlan Iskan ketika mendirikan sebuah koran, tetapi apakah harus seperti itu? Iklan besar-besar memenuhi halaman, bahkan pernah waktu ramai kampanye legislatif, iklan di halaman 1 memenuhi 75 % halaman. Ada juga rubrik “aktivity”, semacam rubrik seremonia di Kompas, tetapi 1 kegiatan bisa dimuat dengan banyak gambar sampai setengah atau 1 halaman tergantung kemampuan keuangan pemilik acara.
Masalah editing adalah salah satu keprihatinan yang lain. Editing koran ini sangatlah payah, banyak kata yang salah disana sini, bukan hanya dalam isi tetapi juga di judul. Contoh, Pemilihan Gubernur ditulis Pilgup, kata parkir ditulis parker, kata renovasi ditulis renopasi, konvoi jadi kompoi, dll. Kesalahan ini hampir terjadi tiap hari. Yang lebih menyedihkan adalah ketika kita membaca berita dan bersambung di halaman lain, ketika kita cari sambungannya tidak ada!!!
Kualitas kertas dan cetakan juga ala kadarnya, menyebabkan kurang menariknya penampilan koran ini. Radar Sarko dijual Rp. 3.000,- per eksemplar. Di Jawa dengan harga segitu kita sudah bisa dapat Koran Sindo dengan 44 halaman yang tentu saja mempunyai berita lebih lengkap. Atau ditambah Rp. 500,- kita dapat Kompas. Disini Kompas dijual eceran Rp. 5.000,- per eksemplar. Itupun kita harus rela ketinggalan 1 hari. Maksudnya koran Hari Senin baru kita terima esok harinya atau Hari Selasa.
Koran daerah JPNN Jambi Independent dan Ekspress sedikit lebih baik dari segi layout, editing dan berita, walaupun masalah iklan sama saja. Berita agak lebih lengkap antara berita daerah, nasional dan kadang-kadang berita internasional. Tetapi untuk berita internasional, nasional, dan olah raga, sama saja, tetap copy paste!
Satu lagi, masalah sumber foto yang dimuat. Setahu saya, sekecil apapun foto yang dimuat harus menyertakan sumber foto tersebut didapat. Tetapi di koran lokal dan daerah JPNN di Jambi ini sering kali melupakan hal ini. Foto yang besarpun kadang tidak disertai sumber foto, apalagi foto yang kecil-kecil.
Terlepas dari segala kekurangan, hadirnya koran lokal ini setidaknya mampu memberi informasi kepada masyarakat setempat walaupun hanya berita-berita lokal. Selain itu, diharapkan juga mampu menumbuhkan minat baca masyarakat. Tetapi koran lokal harusnya tidak selamanya dalam kondisi seperti ini, kedepan saya harapkan koran lokal mampu memperbaiki diri dari segi penampilan dan isi. Menambah berita nasional dan internasional agar masyarakat tidak seperti katak dalam tempurung. Media masa sebagai salah satu agen perubahan harusnya ikut mendidik dan mencerdaskan bangsa seperti pemakaian bahasa baku dalam pemberitaan. Dan bagi pemilik tentunya profit tetap diperoleh agar koran lokalnya bisa tetap eksis dan terbit..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s