PONARI DAN MASYARAKAT KITA

Belakangan ini ramai diberitakan tentang Ponari bocah dari Jombang yang mempunyai kekuatan menyembuhkan berbagai penyakit lewat batu ajaib yang dimilikinya. Ribuan orang berbondong-bondong menyerbu rumah orang tua Ponari, bahkan ketika pengobatan sudah dihentikan orang masih datang hanya untuk mengambil air sumur dan tanah dari pekarangan rumah tersebut yang katanya juga bisa menjadi obat penyakit mereka.
Awalnya saya kurang mengikuti fenomena Ponari ini sampai pada dua hari yang lalu ada peristiwa yang hampir mirip. Ceritanya begini, dua hari yang lalu saya dimintai tolong untuk mengantar tetangga berobat ke karena sudah 4 hari demam tidak sembuh. Ketika sakit dua hari sudah diperiksakan ke mantri desa dan disuntik tetapi belum juga berkurang sakitnya, malah kayaknya semakin parah. Di desa tempat tinggal saya memang cuma ada mantri desa dan bidan yang biasa jadi tempat pertama untuk berobat. Dokter ada di desa tetangga yang menjadi ibu kota kecamatan yang jaraknya kurang lebih 15 Km. Tetangga saya tersebut minta diantarkan ke desa tersebut.
Saya menduga tetangga saya akan berobat ke dokter tersebut, karena saya lihat kondisi tubuhnya memang sangat lemah. Tetapi ketika memasuki desa tersebut tetangga saya minta mobil dibelokkan bukan ke arah rumah dokter tetapi ke seorang “pintar” yang bisa menyembuhkan penyakit. Ketika sampai di rumah yang dituju, saya melihat saja bagaimana proses pengobatan tersebut. Setelah “diperiksa”, tetangga saya diberi air putih satu gelas yang sudah, katanya, diberi doa. Air tersebut diminum 3 kali setelah itu sisanya diusapkan ke kening 3 kali dan pusar 3 kali. Cuma seperti itu pengobatan yang dilakukan. Saya hanya terbengong melihat semua itu, karena selama ini kalau saya sakit pasti lari ke dokter. Pulangnya diberi satu plastik kecil air untuk obat di rumah. Katanya ini sakitnya hanya demam biasa, bukan “gangguan”. Entah gangguan apa yang dimaksud. Yang unik, kita pulangnya tidak boleh berpamitan! Jadi kami langsung aja nyelonong keluar rumah dan pulang..!!!
Karena peristiwa ini saya jadi berpikir tentang fenomena Ponari. Masyarakat kita memang masih banyak yang irasional dan percaya pada hal-hal mistis yang sulit diterima akal sehat. Bayangkan, hanya dengan sebuah batu yang dicelupkan ke air bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Jangankan masyarakat pelosok seperti kami, orang kotapun yang mempunyai pendidikan lebih tinggi dan askes terhadap informasi sangat mudah, masih juga ada yang lebih percaya hal-hal mistis daripada hal yang rasional. Faktor yang paling berpengaruh adalah keimanan seseorang yang kurang kuat sehingga mudah terpengaruh oleh hal-hal seperti itu.
Selain faktor keimanan adalah faktor kemiskinan yang menyebabkan masyarakat kita tidak mampu untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang memadai sehingga berusaha untuk mencari alternatif pengobatan yang manjur tapi murah. Terlebih yang sudah merasa frustasi karena sakitnya sudah lama tidak kunjung sembuh padahal sudah menghabiskan harta bendanya. Ketika sebagian masyarakat kita tanpa merasa berat berobat rutin ke Singapura, sebagian masyarakat kita memilih menahan sakit karena tidak adanya biaya untuk berobat. Memang pemerintah mempunyai program kesehatan untuk rakyat miskin seperti Jamkesmas, Askeskin tapi seberapa jauh fasilitas itu bisa digunakan oleh rakyat miskin? Sering kali kita dengar ada pasien ditolak untuk berobat ke rumah sakit atau bayi disandera karena orang tuanya belum bisa melunasi biaya persalinan.
Program-program untuk rakyat miskin seperti disebutkan diatas, atau juga BLT sebenarnya bagus tetapi terkadang tidak tepat sasaran. Masyarakat yang seharusnya dapat malah tidak dapat, begitu juga sebaliknya. Masyarakat kita kalau akan mendapat bantuan akan berlomba-lomba untuk mengaku dirinya miskin….

Iklan

2 thoughts on “PONARI DAN MASYARAKAT KITA

  1. kedokteranpun menurut saya nggak rasional. Apa dasarnya mendengar dari stetoskop, fonis penyakit, kasih resep…
    Rasionalisasinya hanya pada perusahaan farmasi yang kasih bonus besar ke dokter kalo pake obat mereka. Akibatnya pasien sering dikasih salah obat… nah lho…

    Lagian rakyat kecil banyak yang rasional kalo mereka ke dukun. Bukannya semakin nggak rasional kalo mereka nggak punya duit dan nggak terakses dengan jamkesmas tapi maksa ke dokter atau ke rumah sakit…

    So siapa yang tidak rasional. Bukan keimanan atau kemiskinan…tapi akses yang berpihak pada golongan-golongan tertentu saja… sistem akses itu yang nggak rasional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s